LIR ILIR

LIR ILIR

 

Lir Ilir, Lir Ilir

Tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo

Tak sengguh temanten anyar

 

Cah Angon, Cah Angon

Penekno Blimbing Kuwi

Lunyu-lunyu penekno

Kanggo mbasuh dodotiro

 

Dodotiro, Dodotiro

Kumitir bedah ing pinggir

Dondomono, Jlumatono

Kanggo sebo mengko sore

 

Mumpung padhang rembulane

Mumpung jembar kalangane

Yo sorak-o, sorak “Iyo”

 

( Raden Mas Said, atau lebih dikenal dengan Sunan Kalijaga )

*terjemahan kasar :

Bangunlah, Bangunlah

Tanaman sudah bersemi

Sungguh (demikian) menghijau

Sungguh (seperti) pengantin baru

 

Anak Gembala, Anak Gembala

Panjatlah (pohon) belimbing itu

Meskipun Licin (tetap) panjatlah

Untuk membasuh(membersihkan) bajumu

 

Bajumu, Bajumu

Berkibar robek terkoyak pada bagian samping

Jahitlah, Benahilah

Untuk menyongsong nanti sore

 

Selagi bersinar terang Sang Rembulan

Selagi banyak waktu luang

Ya bersoraklah, sorakan “Iya”

 

——————————————————

 

#terjemahan lanjut :

- Lir Ilir, Lir Ilir

Lir' atau Ilir’ Orang jawa sekarang lebih mengenalnya dengan ‘ngilir’ dengan arti bangun atau terbangun (dari tidur).

ada dua pendapat tentang penafsiran baris ini,

pertama; kepada orang-orang yang belum masuk islam.

kedua; kepada orang-orang islam baik yang baru masuk islam ataupun yang sudah lama masuk islam.

pendapat saya adalah, kepada kedua orang tersebut.

~ Bangunlah, bangun dari tidurmu (baik engkau yang belum masuk islam dan sudah masuk islam)

 

- Tandure wis sumilir

Tandure', dalam konteks bahasa jawa, bisa berarti tanaman atau juga benih atau biji.

wis sumilir’ sudah tumbuh bersemi.

~ benih-benih (atau tumbuhan) keimanan mulai (atau sudah) tumbuh bersemi dalam hati mereka, maka rawatlah baik-baik.

 

- Tak ijo royo-royo

Ijo', Hijau.

Sejak jaman Baginda Nabi Muhammad saw. Hijau adalah warna untuk panji-panji Islam.

~ Sungguh (demikian) menghijau benih (atau tumbuhan) keimanan tersebut.

jika kita melihat hamparan tanduran’ (tumbuhan) yang menghijau, di sana tidak ada hama (penyakit) serta sejuk dipandang oleh mata.

Yang dalam maksud lain, tidak ada penyakit hati dalam benih keimanan islam. karenanya, rawatlah benih-benih tersebut, jauhkan dari hama (penyakit) hati, seperti iri, dengki, tamak, kikir dsb.

 

- Tak sengguh temanten anyar

Jika kita melihat pengantin baru, bagaimana perasaan kita ? gembira bukan ?

ada kebahagiaan yang disambut oleh khalayak dari pengantin baru.

ada senyum, tidak ada kesedihan, menangispun untuk kebahagiaan.

~ Sungguh (seperti) pengantin baru, seperti itulah iman islam yang sejati.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabi-in (umat yang mengetahui adanya Tuhan Yang Maha Esa, penyembah matahari atau bintang-bintang, sebelum (mengetahui) datangnya kabar tentang Islam), siapa saja diantara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhan-nya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidaklah bersedih hati.

( Sapi Betina : 62 )

 

 

- Cah Angon, Cah Angon

~ Anak Gembala, Anak Gembala

Ini adalah satu baris kecerdasan dari Raden Mas Said. Anak Gembala adalah pemimpin. Bisa jadi pemimpin baik secara pemerintahan atau keagamaan (Ulama).

Oh iya, setiap Nabi dan Rosul yang ditunjuk oleh Allah adalah seorang mantan penggembala kambing/domba.

Ini benar-benar kambing/domba binatang ternak, bukan kambing/domba dalam konotasi yang lain.

Makna lain adalah bahwa setiap insan adalah pemimpin, paling tidak adalah pemimpin untuk dirinya sendiri.

 

 

- Penekno Blimbing Kuwi

~ Panjatlah (pohon) belimbing itu

Belimbing, buah yang berwarna hijau dan mempunyai 5(lima) sisi, Buah yang diibaratkan untuk menunjukkan Rukun Islam; syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji (bila mampu).

Yang ingin disampaikan oleh Raden Mas Said adalah, wahai para pemimpin(dalam tingkatan apapun), panjatlah, rengkuhlah Lima Sisi dari Hijaunya Islam.

 

- Lunyu-lunyu penekno

~ Meskipun Licin (tetap) panjatlah

Kendati licin, susah, penuh halangan, tetaplah berusaha untuk memanjat pohon belimbing yang hijau tersebut.

Meski kadang menyesakkan dada, seperti manusia yang memanjat langit karena tipisnya oksigen.

Karena :

Allah tidak membenani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuan(kesanggupan) yang dimilikinya …

( Sapi Betina : 286 )

Semua sudah ada takarannya masing-masing.

 

- Kanggo mbasuh dodotiro

~ Untuk membasuh(membersihkan) bajumu

Dodot', adalah baju orang jawa(majapahit) pada jaman dulu. Bentuk bajunya adalah kain yang dililitkan. Baik lelaki atau perempuan, pada jaman dulu bentuk bajunya sama, bentuk kain yang dililitkan ke badan, itulah dodot.

Bedanya, sebelum datang kabar islam masuk jawa, manusia jawa memakai dodot sampai pada batas pinggang. Setelah datang kabar Islam, kaum perempuan memakai dodot sampai di atas dada. Sisa-sisa pemakai dodot sampai pinggang, bisa anda ketahui dari foto-foto jaman kolonial belanda di Indonesia dari lelaki dan perempuan di pulau bali.

Beberapa orang menerjemahkan Dodot adalah pakaian pembesar jawa. Mungkin saya perlu riset jika diberi waktu.

Iro’, adalah kata untuk menunjuk ke kamu/anda, atau bisa juga kalian.

Dodotmu, Bajumu, yang dimaksud oleh Raden Mas Said adalah baju atau pakaian sebagai perhiasan untuk menutup tubuh(aurat). Dan juga baju untuk memperindah hati dan jiwa.

Ketika setiap insan yang mau memimpin dirinya sendiri memanjat pohon belimbing(pohon keimanan islam), meskipun berat dan penuh cobaan, itu bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga sang insan sendiri.

 

- Dodotiro, Dodotiro

~ Bajumu, Bajumu

- Kumitir bedah ing pinggir

~ Berkibar robek terkoyak pada bagian samping

- Dondomono, Jlumatono

~ Jahitlah, Benahilah

- Kanggo sebo mengko sore

~ Untuk menyongsong nanti sore

`Kumitir’, itu berkibar-kibar diterpa angin.

Dalam sebuah perjalanan hidup, banyak angin yang menerpa, kadang sampai membuat baju kita robek terkoyak pada bagian samping.

Ketika angin menerpa dan membuat sobek baju kita, Jahitlah, Benahilah hati dan jiwamu dengan menggunakan belimbing yang kamu rengkuh.

Untuk menyongsong nanti sore, karena jaman dari umat Muhammad sudah sore, sebentar lagi malam, sebentar lagi Hari Akhir Datang.

 

- Mumpung padhang rembulane

~ Selagi bersinar terang sang Rembulan

- Mumpung jembar kalangane

~ Selagi banyak waktu luang

- Yo sorak-o, sorak “Iyo”

~ Ya bersoraklah, sorakan “Iya”

Baris pertama pada bait ini adalah kritiku kepada Raden Mas Said. Karena beliau menggunakan kata rembulan, sementara pada bait sebelumnya dia menunjuk saat ilir(bangun) adalah sore.

Tapi ada kontradiksi di sini, meskipun kadang rembulan terlihat pada sore, meskipun tidak selalu.

Mungkin maksud beliau pada sinar rembulan adalah, selagi ada cahaya di sore hari, selagi masih ada pentunjuk jalan yang terang.

Jadi, Selagi masih ada pentunjuk jalan yang terang, Selagi waktu masih ada dan banyak waktu luang, penuhilah panggilan Islam ini dengan bersorak “Iya”.

Soraklah (berteriaklah) “Iya” dengan sepenuh hati.

 

 

Demikian makna dari lirik ‘lir-Ilir’ yang digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai bentuk dakwah syiar Islam,

pedoman bagi setiap muslim untuk mencapai kehidupan akhirat yang lebih baik.

 

Wa AllahuAlam.

Leave a Reply

Kalender
March 2013
M T W T F S S
« Dec   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031